Tigapagi – Pasir

Tags

Pasir ini erat ku genggam
Tak bersisa sebutir di telapak tangan
Jika ia tak sanggup lagi menghakimi
Mungkin hanya waktu yang mampu mengadili ia

Andai jarum dapat ku halang
Tak akan tebuang detik akan kudulang
Dan akan kutuang dalam ruang tak bertulang
Namun kini ku letih memlih tuk pulang

Ku pulang pun tak kunjung hilang
Menjadi bayang menghadang lalu menyerang
Sekonyong datang, lalu hilang, lalu datang, hilang,
selalu datang-hilang, lalu datang, lalu hilang

Pasir, aku lelah mengukir, ku terusir tersingkir
Pasir, tak terukur, kau gugur teratur
Aku terkubur, tersungkur

Pasir, aku lelah mengukir, ku terusir tersingkir
Pasir, tak terukur, kau gugur teratur

Sumber : http://radyusaniar.blogspot.co.id/

Advertisements

OWL AND WOLF

Tags

(F. Icksan & R.Yoewono)

 

Marsella Safira Farhat – Vocals

Dennis Simanungkalit – Vocal arrangements

 

We don’t need to speak our names, and our

things that float in between. Let me haze

over by your side. Under your wings as king

and queen. We dance the shadow of these

lonely pines. And tonight we follow the

rhythm of this howling wolf.

 

We sing a song of our midnight glamour.

Our eyes illuminate in high and low. I set the

fire on the black hole’s gate. To keep us

holding on until day light breaks. We are the

stealer of the stars tonight, and silently we

sing the echoes of this crying wolf.

 

Under the crescent shades, we hide, dance

and sing, and widely awake. Rovers of the

mountain forgotten away. We hold the

lights of the silent nights. Time goes by for

these owl and wolf.

 

Sumber: Lembar Lirik Album CD Detourn

Tentang Sawah

Keluarga yang baru pindah ke desa, dulunya tinggal di kota entah kenapa pindah ke desa, oh ya sang ayah ditugaskan pindah ke desa, jadilah dia pindah membawa anggota keluarganya, satu istri dan satu anak laki – laki.

Pada hari kerja, saat pergi dari kantor sang ayah melihat aktivitas yang tidak pernah dia lihat di kota tempat sebelumnya dia dan keluarganya tinggal.”Pfffttt aneh li orang – orang tu, tiap pagi ku liat mereka pergi ke hamparan rumput gtu ntah ngapain ntah, tanam rumput? Aneh” ucap sang ayah saat melihat aktivitas tersebut.

Suatu ketika saat keluarga tersebut berkumpul untuk makan malam, si ayah mengungkapkan hal yang bagi dia aneh itu, “Bu, tau gak bu orang – orang di desa ini sungguh aneh, mereka tiap pagi ku liat pas aku pergi kerja tanamin rumput2 gtu d lapangan yg luas, agak berlumpur gitu lapangannya, aneh li”. Sang ibu agak heran dengan perkataan sang ayah terlihat dari raut wajahnya yg seperti tanda tanya.

Kemudian ibu berkata “ayah ada2 aja, masak orang nanam rumput, biasa yg ada rumput dicabut bukan di tanam”.”Beneran ini, ayah liat dengan mata kepala sendiri” jawab sang ayah. Sejenak terlintas dalam pikiran ibu, “apa yg ayah maksud itu sawah ya?, dan yg di tanam itu padi? Ah, gak mungkin masak ayah bego bgt gak tau sawah” lalu ibu bertanya lagi “Ayah lihat lapangan itu dimana tepatnya?”. “Itu di jalan mau keluar dari desa pas pengkolan mau menuju gapura desa” ayah menjawab.

Deg, duaaarrrr bagaikan ada guntur yang menghujam jantung sang ibu “yaelllaaaaahh itu emang sawaaaah, huft, bapak bapak kasian sawah aja gak tau” kemudian ibu terpikir sesuatu dan mulai berkata lagi “bapak sekarang lg makan apa?” “ya nasi lah masak ibu gitu aja gak tau” jawab ayah. “Ayah tau gak nasi itu asal darimana?” tanya ibu lagi. “hhhmmm ayah taunya dari beras yg dibeli di pasar hehe”.

Eits, jangan lupakan si anak yg sedang duduk di situ juga sedang menikmati makan malam bersama, lihatlah ekspresi wajahnya sekarang sangat shock dari mulutnya seperti keluar muntahan pelangi seperti di anime – anime. “Beras itu berasal dari tanaman yg namanya padi yah” sang anak akhirnya angkat bicara. Melihat ekspresi ketidaktahuan yang tercermin dari wajah sang ayah si anak berkata lagi “Padi itu biasa di tanam di sawah yah, di desa ini kan banyak sawah, kitapun sering melewatinya”.

Loh, heh, loh, heh, loh, heh apakah ini ada kaitan dengan perkataan sang ayah tentang orang – orang yang berbondong – bondong pergi ke lapangan yg luas dan menanam rumput itu. Jangan terlalu cepat berspekulasi, kita baca lanjutan obrolan mereka. “Besok waktu pergi sekolah, coba kamu ikut ayah naik mobil, jangan naik sepeda seperti biasanya trus tunjukkin sawah sama ayah” ucap ibu kepada sang anak. “Oke bu, sip” jawab sang anak.

Hari Selasa…

Brrrmmrmm, itu suara mobil ayah, “Ayo nak, kita berangkat” seru sang ayah. Setelah mencium tangan ibu di teras rumah sang anak bergegas menuju ke depan rumah tempat mobil dan ayah menunggu. “Berangkaaaat…” sang anak menyahut ajakan ayah tadi. Ibu dari teras berharap semoga ayah jadi tau sawah, aamiin. Beberapa menit dari rumah akhirnya sawah kelihatan sang anak pun langsung berkata “yah, yah, itu, itu sawaaah”. “Manaaaa?”

20160303_064920

Dokumantasi Penulis (Gambar 1)

“Itu yah di sebelah kanan” kata si anak lagi.

20160303_064858

Dokumentasi Penulis (Gambar 2)

“Oooh ini sawah, jadi tau” dan ayah pun sudah tahu.

Apakah itu hamparan rumput yang didatangi banyak orang yang ayah lihat sebelumnya? Kenapa ayahnya gak tahu sawah? Padahal hidupnya lebih lama dari sang anak, apakah ayahnya berasal dari planet lain? atau memang ada orang yang tidak tahu sawah? Entahlah.

 

Zeke and the Popo – Prof. Komodo (lirik)

Tags

Diputar dan diputar lagi

Dari hidup sampai mati

Bukannya sombong tapi ku bohong

Bicara dgn lampu mati

Lampu hidup aku mati

(Harmonica)

Pengalaman di bangun tidur

Mempengaruhi hidupku

Setinggi langit

Kembali ke rumah yang kosong

Kalau penuh itu dosa

Itu biasa aku tak papa

Diputar dan diputar lagi

Dari hidup sampai mati

(Semoga kamu semua basi)

Pengalaman di bangun tidur

Mempengaruhi hidupku

Setinggi langit

Sumber : http://musiklib.org/Zeke_And_The_Popo-Prof_Komodo-Lirik_Lagu.htm

Hujan

Kalian berkumpul di sana

Di atas

Berubah wujud

Menjadi yang putih

Kadang berarak tipis

Kadang seperti kapuk yang bertumpuk – tumpuk

Pada saatnya nanti warna putih berubah

Menjadi lebih gelap

Abu – abu bahkan mendekati hitam

Kalian masih di sana

Berkumpul

Tapi kali ini kalian sudah tidak mampu bergandengan satu sama lain

Ingin jatuh, ke bawah, ke bumi

Ayo jatuhlah, biar bumi basah

Oh petrichor, aku suka aroma ini

Saat kalian jatuh ke tanah kering

Hujan

Dialog Rakyat

Rakyat pembeli : *sedang bernapas dan duduk kemudian lapar* lapar nih                                          beli yang ringan2 aja lah

Rakyat pembeli pergi ke swalayan naik sepeda yang ada motornya dan sudah diisi bensin biar bisa bawa dia ke swalayan itu. Setelah masuk, ambil makanan ini itu yang mau dimakan nanti saat udah ada di rumah lagi, rakyat pembeli menuju kasir.

Rakyat kasir      : ini aja belanjaannya?

Rakyat pembeli : *diam sebentar lalu ngomong* sebenarnya mau borong                                     semuanya tapi uangnya gak cukup

Rakyat kasir      : ooh hehe

Yaudah rakyat pembeli pulang dan nanti makanan itu akan dimakan.

Ganjil

Tags

Senja sore dia ke sana, melihat matahari tenggelam, maksudnya bukan tenggelam seperti manusia karena tenggelamnya matahari gak bikin dia mati. Apa yang dicari? Tanya saja sendiri sama dia, dia yang sedang duduk di atas batu memandang ke arah matahari sambil minum es teh manis yang dibungkus plastik. Hari ini apa ayah akan pulang? Itu dia tanya pada dirinya sendiri bukan untuk dijawab tapi sekedar meluapkan kegelisahan, pertanyaan yang muncul dari dalam pikirannya tanpa diucapkan.

Ibunya memanggil dari kejauhan menyuruh dia pulang karena bentar lagi maghrib, “Nak, nanti kamu ngaji di mushalla cepat pulang!” panggil emaknya. “Iya maak,” jawab dia untuk segera bangkit dari duduknya berlari ke sana ke arah rumahnya yang tidak jauh dari pantai.

Habis mandi tidak lupa dia pakai baju, baju yang ada kancingnya bukan kaos, baju koko kata orang – orang, kasihan si Koko bajunya di pakai orang – orang, apa dia masih punya baju ya untuk dipakai? Entahlah. Tidak lupa juga dia pakai celana dalam, celana dalam itu celana yang dipakai di dalam bukan di luar seperti Superman. Biar tidak malu dia juga pakai kain sarung.

Oh, azan sudah berkumandang, cepat lari ke mushalla biar gak masbuq, bukan mabuq ya tapi masbuq pakai ‘s’ biar mabuq-nya dingin,eh, bukan, masbuq itu berarti terlambat untuk bisa sholat sama – sama dengan imam. Sampai di mushalla dia sholat, selesai sholat dia berzikir kemudian berkumpul bersama teman – teman yang lain, untuk apa? Kan tadi emaknya udah bilang, baca aja lagi di paragraf kedua.

Saat ngaji matanya menangkap -seolah – olah seperti jaring untuk nangkap ikan-   ayahnya duduk di sudut mushalla, oh ayah di sini rupanya, asik nanti pulang sama ayah ah dalam hatinya berkata seperti itu. Ngaji pun selesai dia pulang tapi ayah sudah tidak ada, dia pun berlari  seakan dikejar anjing gila menuju rumah. “Maak! Ayah mana?” tanya dia. “Ada di kamar lagi tidur jangan diganggu, ayah capek baru pulang tadi maghrib” jawab ibu. “Padahal adek tadi mau pulang sama – sama ayah tapi ayah duluan pulang.”

“Pulang dari mana?” tanya ibu. “Dari mushalla, tadi adek liat ayah di situ” jawab dia. “Ayah gak ke mushalla pas azan maghrib ayah di rumah terus” itu kata ibu. “Oh” jawab dia.

Efek Rumah Kaca – Desember

Tags

Selalu ada yang bernyanyi
Dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi
Sisi gelap ini menanti seperti pelangi
Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Selalu ada yang bernyanyi
Dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi
Sisi gelap ini menanti seperti pelangi
Setia menunggu hujan reda

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka

Aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember
Karena aku selalu suka sehabis hujan
Di bulan Desember, di bulan Desember

Seperti pelangi setia menunggu hujan reda